Cerpen horor

 Rumah Tua Kosong


Malam ini hujan turun sangat deras, suara petir menggelegar menggetarkan jendela kamar. Sejak sore hujan turun sangat deras, jendela kamar terbuka hingga air hujan masuk kedalam kamar. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 00.00 tengah malam. Hawa dingin menyeruak membuat bulu kuduk merinding. Tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamar, dalam hati aku berkata “siapa tengah malam begini mengetuk pintu, mama dan papa sedang di rumah nenek, adikku mana mungkin terbnagu tengah malam, ada tempa pun dia pasti tak bangun. Aku membuka gagang pintu pelan pelan, aku tak melihat siapapun di luar, kututup pelan pelan pintu kamarku dan duarrr foto keluarga di dinding jatuh mungkin karena derasnya hujan dan angin yang kembali membuka jendela kamarku. Kutangkap sosok putih didepan rumah tua kosong dari bilik kamarku, “apa itu?” kuperhatikan dalam dalam dan sosok itu mengarahkan pandangannya padaku. Sontak aku kaget dan terjatuh, aku buru buru menutup jendela dan memejamkan mata dan seolah tak melihat apa apa. 

Keesokan harinya aku melihat orang beramai ramai di depan rumah tua kosong itu, aku merasa penasaran dan turun ke bawah.

“Dek, ada apa ramai ramai didepan?”

“Ada kejadian bunuh diri kak semalam, seorang perempuan katanya sih seusia kakak”

Aku bergegas keluar dan melihat langsung apa yang terjadi di pagi buta ini. Dan ya perempuan itu menggantung di lantai dua rumah tua itu, orang orang hanya bisa melihat dari bawah sambil menunggu ambulance dan polisi tiba di lokasi kejadian. Aku melihat samar samar perempuan itu, siapakah dia, sepertinya aku pernah bertemu dengannya beberapa hari lalu di kampus. Suara sirine mobil ambulance dan polisi berpadu rau membuat semua orang di kompleks ini terbangun. Seorang Ibu menangis histeris dan sepertinya itu Ibunya, dan laki laki muda di sebelahnya sedang menenangkan sang Ibu, mungkin mereka keluarganya. 

“Sari”

Itulah nama yang disebut sebut Ibu tadi. Saat polisi dan petugas medis medis membawa mayat turun aku sekilas melihat wajahnya. Astaga perempuan itu yang kulihat semalam dan aku pernah bertemu dengannya di kantin kampus. Wajahnya pucat, matanya lebam mungkin seharian ia menangis hingga pada akhirnya ia memutuskan bunuh diri. Tapi entahlah kenapa seringkali banyak orang yang bunuh diri di rumah tua ini, baru satu tahun aku dan keluarga tinggal di kompleks ini ada 3 kali kejadian bunuh diri. Aku semakin penasaran dengan rumah ini, warga di sekitar juga tak ada yang berani mendekat di rumah ini. Bayangkan rumah ini sangat tidak terurus, katanya sudah lama kosong dan setiap akan digusur ada saja gangguan yang pada akhirnya rumah ini tak jadi diratakan. Ketika pulang tengah malam, aku selalu mendengar suara orang menangis, bau danur, kadang aku seolah melihat perempuan yang berdiam diri di depan gerbang rumah itu, dan saat kusapa tak ada suara dan mukanya pucat pasi. 

Saat polisi menyelidiki di tempat kejadian, aku memberanikan diri untuk melihat tempat kejadian. Aku melihat tali bunuh diri itu masih sama seperti yang kulihat dari korban korban sebelumnya, entah lah apa motif korban memutuskan bunuh diri dan kenapa memilih rumah ini untuk menjadi tempat mengakhiri hidupnya. 

“Lihat tali itu, seorang tua berbicara kepada, tali itu yang telah membunuh banyak orang”

“Kakek memperhatikan tali itu juga?”

“Iya sudah 40 tahun tinggal disini, banyak sekali orang bunuh diri hingga petugas pemerintah ingin meratakan rumah ini namun gagal berulang kali, dan kakek perhatikan tali yang digunakan untuk bunuh diri selalu sama. Menurut cerita tali itu tidak boleh dilepas dari tempatnya.”

“Kenapa memangnya kek?”

“Kakek juga kurang tau, jadi selama kakek hidup kakek belum pernah mendengar ada orang yang melepas tali itu?

Tanpa ada mendung atau apapun tiba tiba hujan turun, para polisi dan warga yang masih di rumah tua berhamburan pergi dan enggan melanjutkan penyelidikannya. Saat akan melangkah keluar rumah tua aku merasa menginjak sesuatu, itu adalah kalung, mungkinkah itu milik Sari. Aku tak begitu peduli dan langsung pergi.

Hujan masih tak berhenti sejak sore tadi, ditambah suara petir yang membuat orang istighfar berulang kali. Aku suka sekali menikmati hujan sambil membaca buku dan menikmati secangkir kopi, namun kali ini berbeda, hujan seperti tak bersahabat denganku. Akhirnya kuputuskan turun kebawah dan menyalakan penghangat ruangan dan memasak untuk makan malam. 

Saat aku dan adikku menikmati makan malam, adikku tiba tiba nyeletuk. 

“Kak itu ada orang malem malem hujan begini ngapain deh?”

“Dimana”

“Di rumah tua itu, apa dia ga takut kesitu?”

Aku melangkah mendekati jendela dapur dan mengintip, aku tidak begitu jelas melihat wajah orang itu tapi aku perhatikan style dan pakaian yang dikenakan sama dengan laki laki yang menemani Ibu korban tadi. Laki laki itu masuk ke rumah tua itu belum sampai membuka pintu tiba tiba ia membalikkan badan, aku terkejut dan langsung menutup gorden dapur. Mungkin ia merasa ada yang melihat jadi was was, semoga saja dia tidak melihatku karena aku sangat penasaran, apa yang dilakukan laki kali itu. Setelah satu jam aku menunggu dan belum kulanjutkan lagi makan malamku sampai adikku pergi ke kamarnya untuk tidur, laki laki itu belum keluar juga. Entah pendengaranku yang salah atau bagaimana, aku mendengar seseorang berteriak “tolong” sambil menangis tapi suara itu kemudian hilang bagai ditelan kegelapan. Pintu rumah itu mulai terbuka, dan laki laki itu keluar membawa satu kantong plastik entah isinya apa dan aku lihat dia telah memakai kalung yang kulihat sore tadi.

Keesokan harinya setelah pulang dari kampus aku pergi kerumah kakek yang rumahnya dekat rumah tua itu dan menceritakan apa yang aku lihat semalam.

“Beberapa kali warga disini juga melihat mba, karena takut apa yang dilihat bukan manusia warga enggan untuk mendekat dan bertanya”

“Kakek tau alamat Ibunya korban? saya ingin turut berbela sungkawa kek, dan saya sangat penasaran dibalik semua kejadian ganjil yang beberapa hari ini saya alami. 

“Kakek tadi pagi juga dari rumah duka, ini alamatnya” Kakek menyerahkan selembar kertas bertuliskan alamat korban. 

“Nak, kakek harap kamu tidak ikut campur terlalu jauh karena mungkin ini akan sangat berbahaya bagi kamu dan mungkin  keluarga kamu.”

“Terima kasih kek”

Rumahnya luas, megah dan mewah bagaikan istana dan berada di kompleks orang elit. Kalau kekayaan lantas membuat orang bahagia kenapa akhirnya perempuan malang itu bunuh diri? Rumah duka masih sepi hanya tersisa rangkaian bunga belasungkawa. Aku melihat perempuan menangis di depan pintu rumah itu, dia seperti perempuan yang tengah malam membuat ku terkejut. Perempuan itu memandangku, ekspresinya sedang ingin minta tolong dan mengatakan sesuatu.Tiba tiba aku dikejutkan dengan suara laki laki.

“Anda siapa?” Aku melihat laki laki itu, dia laki laki yang bersama Ibu sari ditempat kejadian

“Halo... Aku kesini untuk turut berbela sungkawa, aku mendapatkan alamat rumah ini dari kakek di dekat tempat kejadian dan kebetulan rumahku di depan rumah tua itu”

“Oh.. anda ingin menemui Ibu Dewi?” Nama Ibu itu ternyata bu Dewi batinku.

“Iya….” Aku memberikan senyuman hangat kepadanya dan ia membalasnya. 


Tanpa bertanya banyak hal, Ibu Dewi seolah menaruh rasa percaya lebih padaku dan tanpa kutanya pun ia menceritakan banyak hal mengenai Sari.

“Ibu ga tau kenapa Sari memutuskan mengakhiri hidupnya, semua hal yang ia minta Ibu kasih, mungkin karena beberapa hari Ibu agak keras padanya karena terlalu sering keluar malam tanpa memberi kabar dan ia juga tidak masuk kuliah, ia memutuskan pergi dari rumah dan sampai akhirnya Ibu mendengar kabar kalau Sari bunuh diri. Dosa apa yang membuat Ibu memiliki anak yang memilih bunuh diri dan tidak berbakti pada Ibunya”

Aku tak bisa berkata banyak karena aku juga tidak tahu menahu tentang Sari dan keluarganya, tapi yang jelas perempuan yang kutemui di depan tadi menunjukkan rasa penyesalan dan kesedihan yang sangat dalam. Satu hal yang kuketahui lagi, bahwa laki laki yang yang bersama Ibu Dewi itu adalah kakak Sari. Tanpa sadar malam semakin larut, dan aku harus pulang karena adikku sendirian dirumah. Kakak Sari menawarkan diri untuk mengantarkan pulang karena memang ini sudah sangat larut bagi perempuan untuk pulang sendirian. Dan aku mengiyakannya.

“Dari tadi ngomong panjang lebar tapi belum kenalan, nama aku Ardi”

“Aku Ayu..”

Kami mengobrol panjang lebar tentang diri kami masing masing dan juga tentang Sari dan keluarganya. Aku sepertinya sudah terlalu jauh memenuhi rasa penasaranku. Ditengah perjalanan aku kaget karena melihat perempuan yang sama, dia berdiri di tengah jalan, aku berteriak

“Aaaaaaa” Mobil berhenti tiba tiba, jantungku berdetak kencang, hujan kembali turun sangat deras.

“Kenapa Ayu?” Belum sempat aku mengatakan apa yang kulihat pohon di pinggir jalan tiba tiba ambur tepat didepan mobil. Sontak aku dan Ardi kaget.

“Apakah kamu berteriak karena ini”

Aku memilih diam dan tidak mengatakan apa apa. Mobil berbalik arah dan mengambil jalan lain untuk sampai rumah dan ini lebih jauh. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan apapun, karena saking lelahnya aku tertidur.

“Sudah sampai” Ucap Ardi sambil membangunkanku

“Astaga”

“Capek banget ya dari awal perjalanan udah tidur” Dia tertawa dan mengejekku

“Apakah tadi ada hal yang terjadi ketika dijalan”

“Tidak, semuanya baik baik saja?”

Ternyata aku hanya bermimpi.


“Ayu.. ayu.. ayu… tolonglah aku” Aku mengikuti suara itu, suara itu dari rumah tua depan rumah. Perempuan yang sering kulihat itu mengajakku masuk kerumah tua itu. Aku melihat samar samar bagaimana Sari malam itu. Dan ternyata  Sari tidak bunuh diri tapi ia dibunuh.

Keesokan harinya aku bangun dan merasakan sakit kepala yang begitu hebat, aku tak mengingat apapun semalam. Kakek datang kerumah dan mengatakan bahwa semalam kakek melihat aku masuk rumah tua itu, tapi kakek melihat bukan seperti diriku. Tiba tiba ada segerombolan orang yang memukulku dari belakang dan ada perempuan di rombongan itu tapi entah siapakah mereka. Namun yang jelas kakek melihat Ardi disana.

Aku semakin bertanya kenapa arwah Sari menggangguku dan Ardi sering terlihat juga di rumah kosong itu. Kenapa aku selalu melihat Sari menangis, dan ditambah ada perempuan dan segerombolan orang yang memukulku. Banyak sekali teka teki ini, dan polisi juga sudah menutup kasus ini. Haruskah ku sudahi rasa penasaranku ini?

“Nanti malam kita selesaikan semua ini, nak” Tiba tiba kakek bersuara

“Kakek sudah lelah mendengar kabar kematian yang sering terjadi di rumah kosong itu, karena istri kakek saat muda dulu disaat dia mengandung anak kami, dia juga bunuh diri disana. Tapi kakek yakin istri kake tidak akan berbuat demikian, karena dia rajin sholat, dan dia juga sangat terbuka dengan kakek, tidak ada masalah diantara kami. Tapi tak ada angin tak ada hujan tiba tiba kakek mendengar istri kakek gantung diri di rumah kosong itu.” Kakek meneteskan air mata, aku turut terhanyut dalam cerita kakek. Aku kembali tertantang untuk menyelesaikan kasus ini. Malam ini juga harus diselesaikan.

“Baik kek, aku ikut rencana kakek”

    Malamnya aku dan kakek menyusun rencana, di tengah kepala yang masih sakit aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap melaksanakan misi ini, kita harus memutus rantai ini. 

“Hantu itu selalu berada didekatmu, karena dia tahu kamu bisa mendengarnya dan membantunya, kamu duduk disini dan ini jepit rambut miliknya yang kakek temukan di rumah kosong itu. Coba lah berkomunikasi dengannya”

Tiba tiba hawa di sekitarku dingin, aku berada di tengah ruangan rumah kosong sambil memejamkan mata dan memegang jepit rambut Sari. Aku melihat kejadian saat Sari bunuh diri dan memutar ulang kejadian hari itu. Aku melihat Sari menangis di pojok kamarnya, ia merintih dan menyebut nyebut Ayahnya, ia bilang bahwa ia rindu pada Ayahnya. Aku samar mendengar bahwa Ayahnya dibunuh oleh Ibu tirinya, yang ternyata dia adalah Bu Dewi. Sari menangis karena mengetahui kebenaran yang terjadi pada Ayahnya, ia tidak sengaja mendengar Ibunya berbicara dengan seseorang melalui telepon. Ardi ternyata bukan kakak kandungnya, dia menjadi tangan Ibunya untuk melakukan tindakan jahat. Kekayaan yang dimiliki Bu Dewi adalah hasil permainan gelapnya dengan makhluk jahat. Ia menumbalkan banyak orang selama ini untuk mengejar kekayaan, dia sudah dikuasai iblis dan semakin haus dengan harta. Bayanganku hilang, kakek menepuk nepuk pundakku dan mengajak bersembunyi karena ada segerombolan orang yang melangkah menuju rumah tua ini.

    Aku menceritakan apa yang aku lihat tadi kepada kakek, dan istri kakek juga telah menjadi korban. Istri kakek dulu adalah teman dekatnya Bu Dewi. Dan entahlah apa yang membuat Bu Dewi begitu tega menumbalkan temannya sendiri, bahkan suami dan anaknya juga menjadi korban. 

Darrr ..

Pintu rumah dibuka tanpa perasaan, seolah mereka tahu ada manusia lain di rumah ini. Tanpa kusadari kakek keluar dari tempat persembunyian kami. Dan terlibat percakapan dengan segerombolan manusia yang sudah dikuasai iblis itu.    

“Apa maumu Dewi?”

“Oh kamu masih menguntitku manusia tua”

“Apa maumu melakukan semua ini, merugikan banyak orang, ga bermoral, hanya mengejar kekayaan materi yang ga bakal dibawa mati.” Nada kakek meninggi, “Sudahi semua ini, jangan ada korban lagi”

“Sebelum aku mati, akan banyak korban lagi di rumah tua ini. Inilah balasan buat mereka yang dulu mengejekku karena aku jatuh miskin, rumah tua ini menjadi saksi, kebakaran hebat yang terjadi dan menewaskan suami dan dua anakku.”

“Tapi kenapa dengan istriku dan calon anakku juga? Istriku baik padamu”

“Karena engkau pun tak ingin istrimu berteman denganku, selama orang orang kaya bahagia aku akan berusaha menjadikan mereka tumbal untuk menambah kekayaanku, dan selama tali gantung itu masih disana aku akan tetap mencari tumbal lagi” Bu Dewi tertawa terbahak bahak dan merasa menang

Aku melihat Ardi disana, tapi ia hanya diam, aku rasa dia berada dibawah kendali Ibunya. Aku dengan mengendap endap mendekati Ardi tapi sepertinya akan sangat berbahaya apabila ia melihatku. Tarik kalung yang dia pakai, pesan kakek padaku saat briefing tadi. Yah dan aku melihat kalung itu, kemudian dengan sekuat tenaga aku menarik kalung itu dan Ardi menjadi sadar.

Semua mata tertuju padaku dan Ardi.

“Hei bocah, kenapa kamu selalu ikut campur urusanku hah” Bu Dewi marah besar padaku, matanya melotot, giginya gemeretak seperti singa kelaparan dan ingin menyerang mangsanya. 

“Ibu, apa yang terjadi?” Ardi masih tidak paham dengan kondisi ini, dan dia sepertinya juga tidak mengenali diriku. 

“Tidak ada apa apa nak, sini mendekatlah kepada Ibu?” Ibu Ardi bermuka manis dan mencoba menarik Ardi

“Bakar sekarang!’Kakek memberikan aba aba

Aku berlari keluar rumah dan menuju tempat pembakaran depan rumahku dan duarrr malam semakin kelam, semua iblis keluar dan tubuh tubuh manusia itu setelah kalung kulempar kedalam api. Aku dan kakek telah memanggil Pak kyai dan meminta Pak kyai menyelesaikan semuanya.

“Dasar kalian manusia tidak tau diuntung, setelah apa yang telah aku berikan kalian berusaha menyingkirkanku. Hawa nafsumu telah membutakan dirimu, dan kalian berada di bawah kendaliku. Aku tidak rela pergi begitu saja, aku akan membawa satu manusia untuk menjadi tumbal berikutnya, dia adalah perempuan tua itu, kau berkhianat pada janjimu, katamu kau bersumpah janji padaku!”

“Jangan bawa aku, kau tidak bisa membawaku, aku tidak akan pernah mati di tanganmu wahai iblis” Bu Dewi menangis dan menjerit ketakutan dan berlari terbirit birit.

“Ambil anakku, jangan aku!”

“Ibu…” Ardi kaget dan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar

“Kau bukan anakku, aku hanya memungutmu dan menjadikanmu kaki tanganku. Ambilah anak ini, jangan aku”

“Tidak.. kamulah yang telah bersumpah dan menggadaikan dirimu jika tak setia padaku” Iblis 

Bu Dewi naik ke lantai dua rumah kosong itu, dia berteriak minta tolong, dia mendekati tali gantung itu sambil berusaha lepas dari tarikan Iblis, tapi begitulah kematian yang mengerikan. Tali gantung itu kembali menelan korban atas kebiadaan dan kejahatan dari manusia sendiri. Sejatinya semua kejahatan yang ada di bumi atas kelakuan manusia yang begitu rakus dan menuhankan hawa nafsunya.

Komentar

Postingan Populer